KASIH IBU SEPANJANG MASA, KASIH ANAK SEPANJANG GALAH


Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Ungkapan tu mungkin tepat disematkan jika melihat kasus penelantaran yang menimpa seorang ibu karena sikap dan perbuatan anak-anaknya. secara sosiologis perilaku tersebut tidak lepas dari pengaruh globalisasi disertai modernisasi terhadap struktur, nilai, dan norma sosial dalam entitas keluarga. keluarga dalam tatanan sosial masyarakat tidak sekedar sebagai intitusi yang mereproduksi sosialisasi kultural, namun juga merupakan ontological security yang memiliki identitas sebagai agen yang membentuk nilIai-nilai tradisional yang integratif seperti persaudaraan dan kekerabatan.

Antar individu menjadi sibuk dengan kepentingannya masing-masing yang dinilai lebih rasional secara ekonomi dan material, dan mengabaikan nilai-nilai kedekatan sosial dengan kerabat, saudara, dan orang tua. Tak heran, dalam era modernitas sebagai sebuah tragedi ontologycal scurity dalam bentuk lembaga lain seperti panti jompo yang siap menerima para lansia atau pinisepuh yang ter-subordinasi oleh kultur yang baru melalui perilaku anak-anaknya atau orang terdekatnya sebagai relasi antar individu.

Meminjam perspektif dari Anthony Giddens, hal itu karena adanya proses strukturasi yang keliru dan tidak berimbang. Dimana individu tidak membekali dan mengimbangi dengan nilai-nilai sosial yang telah mapan yang menjadi sumber kekuatan moral ketika berhadapan dengan gencarnya pengaruh globalisasi yang disertai modernisasi dalam wujud rasionalisasi, persaingan, individualisme, pragmatisme, materialisme, dan konsumerisme.

Maka penting untuk memperteguh nilai dan norma kekeluargaan yang mengedepankan kemanusiaan dan afeksi sebagai investasi kultural dalam mengahadapi tatanan sosial global yang semakin melaju dengan modernisasi yang tidak menentu arahnya.

0

Fenomena Berbelanja Jelang Idul Fitri Ditengah-tengah Pandemi Covid-19


   
Video Mal CBD Ciledug diserbu pengunjung viral. (Screenshot vidio)
Sumber gambar :
https://m.detik.com/news/berita/d-5021077/pengunjung-mal-cbd-ciledug-membeludak-polisi-tegur-pengelola 

           
         Telah kita lewati bulan penuh berkah dan ampunan yang berbeda dari tahun sebelumnya. Telah kita lewati pula bulan bulan suci ini dengan sebagaimana dalam menahan ego dan hawa nafsu ditengah pandemi ini. Tetapi terdapat banyak pusat-pusat perbelanjaan yang buka ditengah pandemi ini menjelang Idul Fitri, salah satunya yakni Mal. Tempat tersebut ramai untuk dikunjungi masyarakat untuk berbelanja berbagai barang-barang ataupun benda-benda keperluan lebaran. Bahkan, tidak sedikit masyarakat berbelanja diluar dari kebutuhan pokok. Seperti yang terjadi di Mal CBD Ciledug yang vidio-nya viral dimedia sosial. 
           Fenomena sosial tersebut bisa terjadi karena pelampiasan dari hasrat konsumtif masyarakat itu sendiri yang sudah terbentuk secara membudaya di Indonesia. Hal ini dimaksudkan masyarakat ingin mencari sebuah identitas baru pada momen-momen lebaran, seperti memiliki baju baru maupun aksesoris lain yang menunjang penampilan. 
            Lebaran dalam konstruksi sosial masyarakat Indonesia bukan sekedar simbol perayaan atau perayaan keagamaan melainkan untuk menujukan identitas baru dan Mal menjadi sebuah intitusi dari si agen kapitalis yang telah berkontribusi dalam membentuk budaya konsumtif masyarakat. Seperti pemberian diskon besar-besaran maupun penawaran produk-produk aksesoris baru melalui hiperealitas yang disuguhkan. Hal tersebut telah membangkitkan imajinasi dan juga hasrat konsumtif masyarakat. 
0

Urgensi Akhlak Bagi Manusia


Seberapa
 Urgen Akhlak bagi Kehidupan Manusia?

Akhlak mulia merupakan pondasi utama bagi terciptanya hubungan baik antara  hamba dengan Allah SWT (Hablumminallah) dan antar sesama manusia (Hablumminannas) serta  antara manusia dengan alam sekitarnya (hewan dan tumbuh-tumbuhan).
Rachmat Djatnika, dalam bukunya menjelaskan : Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati posisi yang sangat penting, baik sebagai individu, sebagai masyarakat atau bangsa. Sebab jatuh-bangun, jaya-hancurnya suatu masyarakat atau bangsa,  tergantung kepada bagaimana akhlak masyarakat atau bangsa itu sendiri…(Rachmat Djatnika, 1987: 11). Senada dengan Rachmat Djatnika, Syauqi Bey seorang pujangga Islam  belasan abad yang silam pernah bersenandung dengan syairnya  yang artinya sebagai berikut: “Suatu bangsa akan tegak dengan  tegaknya  akhlak  bangsa itu  dan bangsa itu akan hancur dan musnah  apabila akhlak bangsa itu telah tiada”
Syair  di atas bukan hanya  sekedar  pemanis  kata dan tanpa  dasar. Hal ini  dapat ditelusuri dari historis  umat terdahulu, misalnya hancurnya kaum Nabi Luth, runtuh dan hancurnya suku bangsa  Quraisy.  Kehancuran dan kebinasaan mereka itu  kalau  diamati jelas  ada kaitannya  dengan kemerosotan moral  atau akhlak  dari bangsa itu sendiri.
Maka dengan demikian semakin jelas begitu urgennya akhlak mulia bagi  seseorang, baik ia sebagai individu, maupun kelompok (masyarakat). Lebih jauh hal  ini dapat ditelusuri dari salah satu misi diutusnya Nabi Muhammad SAW, yakni untuk memperbaiki akhlak atau budi pekerti  manusia “ Innamā bu’istu li utammima makārima al  akhlāq” Artinya :  “Sesungguhnya  saya  diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak atau budi pekerti  manusia”.
Memahami makna hadits di atas, maka agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW merupakan agama penyempurna budi pekerti atau akhlak. Hal ini dapat dimaklumi karena ketika itu (masa jahiliah), akhlak manusia pada masa itu sudah sangat memprihatinkan, sampai-sampai orang-orang kafir kurais menganggap hina jika melahirkan anak perempuan dan karenanya mesti dibunuh dengan cara menguburnya hidup-hidup.
Lebih jauh Harun Nasution mengomentari hadits di atas, bahwa kata “innama” yang terkandung dalam hadits di atas mengandung maknai “hanya semata-mata”, karena itu tidak untuk hal lain. Terkandung dalam hadits itu bahwa  Nabi Muhammad diutus hanya untuk urusan budi pekerti, moral atau akhlak manusia (Harun Nasutiuon, 1995:443).
Dari uraian singkat di atas, tampak semakin jelas, begitu urgennya akhlak bagi manusia dalam menjani kehidupan ini, jikalau  ia menginginkan dan mendambakan kehidupan serta hubungan  yang harmonis, rukun dan damai, baik dengan sang Pencipta (Allah SWT), dengan manusia dan lingkungannya. Kehidupan yang demikian pada akhirnya akan menuai kesuksesaan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Bagaimana realitas akhlak anak bangsa saat ini? Kondisi akhlak anak bangsa sekarang ini memang tidak semuanya rusak, masih ada yang baik, namun tidak sedikit pula orang yang tidak memperdulikannya lagi. Masih terbayang dipelupuk mata kita, bagaimana tawuran antar warga kampung, antar pelajar Smp  A dan Smp B, meningkat lagi antara SMA A dan SMA B, terus meningkat lagi antar fakultas F dan fakultas B. Masih terngiang di telinga kita, bagaimana seorang anak membunuh ibu kandungnya, ayah memperkosa anaknya dan membunuhnya. Amanah dan keadilan sudah tidakdijunjung lagi, terjadi korupsi, manipulasi, kezaliman, pemerasan dan lain-lain.
Melihat kondisi demikian sangat wajar para ulama selalu memperingatklan umatnya, malah sampai sampai bapak Predisden RI kala itu Dr. H. Susilo Bambang Yudoyono dalam beberapa kesempatan mengingatkan rakyatnya: Ketika menghadiri perayaan Isra Mi’raj, 9Juli 2010. Hari Anak Nasional   23 Juli 2010. Membuka  Munas  MUI. Memberikan samabutan pada acara Peringatan Nuzulul Quran 25 Juli 2010 mengatakan “… Kondisi akhlak anak bangsa sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Bahkan dengan tegas dinyatakan bahwa kondisi akhlak bangsa ini sudah mencapai tingkat tragedi yang mengerikanSelanjutnya beliau mengajak komponen anak bangsa “  Saatnya Indonesia kembali kepada peradaban Islam”
Dari prolog singkat di atas diharapkan menjadi renungan bagi mahasiswa untuk menjadikan diri sebagai insan cendikiawan yang memiliki akhlak mulia sehingga dapat ditiru dan diteladani oleh masyarakat sekitarnya.bukan malah menjadi cibiran dan beban masyarakat dan pemerintah.
Syair  di atas bukan hanya  sekedar  pemanis  kata dan tanpa  dasar. Hal ini  dapat ditelusuri dari historis  umat terdahulu, misalnya hancurnya kaum Nabi Luth, runtuh dan hancurnya suku bangsa  Quraisy.  Kehancuran dan kebinasaan mereka itu  kalau  diamati jelas  ada kaitannya  dengan kemerosotan moral  atau akhlak  dari bangsa itu sendiri.
Maka dengan demikian semakin jelas begitu urgennya akhlak mulia bagi  seseorang, baik ia sebagai individu, maupun kelompok (masyarakat). Lebih jauh hal  ini dapat ditelusuri dari salah satu misi diutusnya Nabi Muhammad SAW, yakni untuk memperbaiki akhlak atau budi pekerti  manusia “ Innamā bu’istu li utammima makārima al  akhlāq” Artinya :  “Sesungguhnya  saya  diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak atau budi pekerti  manusia”.
Memahami makna hadits di atas, maka agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW merupakan agama penyempurna budi pekerti atau akhlak. Hal ini dapat dimaklumi karena ketika itu (masa jahiliah), akhlak manusia pada masa itu sudah sangat memprihatinkan, sampai-sampai orang-orang kafir kurais menganggap hina jika melahirkan anak perempuan dan karenanya mesti dibunuh dengan cara menguburnya hidup-hidup.
Lebih jauh Harun Nasution mengomentari hadits di atas, bahwa kata “innama” yang terkandung dalam hadits di atas mengandung maknai “hanya semata-mata”, karena itu tidak untuk hal lain. Terkandung dalam hadits itu bahwa  Nabi Muhammad diutus hanya untuk urusan budi pekerti, moral atau akhlak manusia (Harun Nasutiuon, 1995:443).
Dari uraian singkat di atas, tampak semakin jelas, begitu urgennya akhlak bagi manusia dalam menjani kehidupan ini, jikalau  ia menginginkan dan mendambakan kehidupan serta hubungan  yang harmonis, rukun dan damai, baik dengan sang Pencipta (Allah SWT), dengan manusia dan lingkungannya. Kehidupan yang demikian pada akhirnya akan menuai kesuksesaan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Bagaimana realitas akhlak anak bangsa saat ini? Kondisi akhlak anak bangsa sekarang ini memang tidak semuanya rusak, masih ada yang baik, namun tidak sedikit pula orang yang tidak memperdulikannya lagi. Masih terbayang dipelupuk mata kita, bagaimana tawuran antar warga kampung, antar pelajar SMP  A dan SMP B, meningkat lagi antara SMA A dan SMA B, terus meningkat lagi antar fakultas F dan fakultas B. Masih terngiang di telinga kita, bagaimana seorang anak membunuh ibu kandungnya, ayah memperkosa anaknya dan membunuhnya. Amanah dan keadilan sudah tidakdijunjung lagi, terjadi korupsi, manipulasi, kezaliman, pemerasan dan lain-lain.
Melihat kondisi demikian sangat wajar para ulama selalu memperingatklan umatnya, malah sampai sampai bapak Presiden RI kala itu, Dr. H. Susilo Bambang Yudoyono dalam beberapa kesempatan mengingatkan rakyatnya: Ketika menghadiri perayaan Isra Mi’raj, 9Juli 2010. Hari Anak Nasional   23 Juli 2010. Membuka  Munas  MUI. Memberikan samabutan pada acara Peringatan Nuzulul Quran 25 Juli 2010 mengatakan “…Kondisi akhlak anak bangsa sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Bahkan dengan tegas dinyatakan bahwa kondisi akhlak bangsa ini sudah mencapai tingkat tragedi yang mengerikan”Selanjutnya beliau mengajak komponen anak bangsa “  Saatnya Indonesia kembali kepada peradaban Islam
Dari prolog singkat di atas diharapkan menjadi renungan bagi kita semuao untuk menjadikan diri sebagai insan cendikiawan yang memiliki akhlak mulia sehingga dapat ditiru dan diteladani oleh masyarakat sekitarnya. bukan malah menjadi cibiran dan beban masyarakat dan pemerintah.
0

Kisah Jesi Kecil


Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika ia sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru.Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Jessica,"Pa liat"! Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kacamatanya,kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi

"Wah,. buku baru ya Jes?"
"Ya papa" Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya."Bacain ­ Jessi dong Pa" pinta Jessica lembut
"Wah papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh" sanggah Budi dengan cepat.

Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan didepannya, dengan serius.Jessica bengong sejenak, namun ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu"pa, mama bilang papa mau baca untuk Jessi"
Budi mulai agak kesal, "Jes papa sibuk, sekarang Jessi suruh mamabaca ya"
"Pa, mama cibuk terus, papa liat gambarnya lucu-lucu"
"Lain kali Jessica, sana! papa lagi banyak kerjaan" Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi, menit demi menit berlalu, Jessica menarik nafas panjang dan tetap disitu, berdiri ditempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi."Pa,.. gambarnya bagus, papa pasti suka""Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!" kata Budi membentaknya dengan keras.

Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil terkulai, hampir menangis , matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya
"Iya pa,. lain kali ya pa?"Ia masih sempat mendekati ayahnyadan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah."Pa kalau papa ada waktu, papa baca keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger".
Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi, buku cerita Peri Imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya.

Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras "Buukk!!" beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraannya dengan kencang didepan rumah Budi. Tubuh Jessica mungil terhentak beberapa meter, dalam keadaan yang begitu panik ambulance didatangkan secepatnya. Selama perjalanan menuju rumah sakit, 

Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih"Jessi takut Pa, Jessi takut Ma, Jessi sayang papa mama"
Darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat. Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi, Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji.Kini yang ada hanyalah penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana.. pun tidak terpenuhi.

Masih segar terbayang dalam ingatan budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali",...papa ­ baca keras-keras yaPa, supaya Jessica bisa denger"kata-kata Jessi terngiang-ngiang kembali. Sore itu setelah segalanya telah berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati, canda dan riang Jessica kecil tidakakan terdengar lagi, Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan. Bukunya ­ sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil.

Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan suara keras,tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras, Ia terus membacanya dengan keras-keras halaman demi halaman, dengan berlinang air mata.

"Jessi dengar papa baca ya"selangbeberapa kata,.. hatinya memohon lagi
"Jessi, papa mohon ampun nak""papa sayang Jessi!"
Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya, tak kuasa menahan itu Budi bersujud dan menangis memohon satu kesempatan lagi untuk mencintai. Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan kesenangan dan membagi kesedihan kita, Ia selalu memberi PERHATIAN kepada kita karena ia peduli kepada kita.


ADAKAH "PERHATIAN TERBAIK" ITU BEGITU MAHAL BAGI MEREKA ?
BERILAH "PERHATIAN TERBAIK" WALAUPUN ITU HANYA SEKALI
Berilah "PERHATIAN TERBAIK" bagi mereka yang kita cintai.
2

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com