Akhlak mulia merupakan pondasi utama bagi terciptanya hubungan baik antara hamba dengan Allah SWT (Hablumminallah) dan antar sesama manusia (Hablumminannas) serta antara manusia dengan alam sekitarnya (hewan dan tumbuh-tumbuhan).
Rachmat Djatnika, dalam bukunya menjelaskan : Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati posisi yang sangat penting, baik sebagai individu, sebagai masyarakat atau bangsa. Sebab jatuh-bangun, jaya-hancurnya suatu masyarakat atau bangsa, tergantung kepada bagaimana akhlak masyarakat atau bangsa itu sendiri…(Rachmat Djatnika, 1987: 11). Senada dengan Rachmat Djatnika, Syauqi Bey seorang pujangga Islam belasan abad yang silam pernah bersenandung dengan syairnya yang artinya sebagai berikut: “Suatu bangsa akan tegak dengan tegaknya akhlak bangsa itu dan bangsa itu akan hancur dan musnah apabila akhlak bangsa itu telah tiada”
Syair di atas bukan hanya sekedar pemanis kata dan tanpa dasar. Hal ini dapat ditelusuri dari historis umat terdahulu, misalnya hancurnya kaum Nabi Luth, runtuh dan hancurnya suku bangsa Quraisy. Kehancuran dan kebinasaan mereka itu kalau diamati jelas ada kaitannya dengan kemerosotan moral atau akhlak dari bangsa itu sendiri.
Maka dengan demikian semakin jelas begitu urgennya akhlak mulia bagi seseorang, baik ia sebagai individu, maupun kelompok (masyarakat). Lebih jauh hal ini dapat ditelusuri dari salah satu misi diutusnya Nabi Muhammad SAW, yakni untuk memperbaiki akhlak atau budi pekerti manusia “ Innamā bu’istu li utammima makārima al akhlāq” Artinya : “Sesungguhnya saya diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak atau budi pekerti manusia”.
Memahami makna hadits di atas, maka agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW merupakan agama penyempurna budi pekerti atau akhlak. Hal ini dapat dimaklumi karena ketika itu (masa jahiliah), akhlak manusia pada masa itu sudah sangat memprihatinkan, sampai-sampai orang-orang kafir kurais menganggap hina jika melahirkan anak perempuan dan karenanya mesti dibunuh dengan cara menguburnya hidup-hidup.
Lebih jauh Harun Nasution mengomentari hadits di atas, bahwa kata “innama” yang terkandung dalam hadits di atas mengandung maknai “hanya semata-mata”, karena itu tidak untuk hal lain. Terkandung dalam hadits itu bahwa Nabi Muhammad diutus hanya untuk urusan budi pekerti, moral atau akhlak manusia (Harun Nasutiuon, 1995:443).
Dari uraian singkat di atas, tampak semakin jelas, begitu urgennya akhlak bagi manusia dalam menjani kehidupan ini, jikalau ia menginginkan dan mendambakan kehidupan serta hubungan yang harmonis, rukun dan damai, baik dengan sang Pencipta (Allah SWT), dengan manusia dan lingkungannya. Kehidupan yang demikian pada akhirnya akan menuai kesuksesaan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Bagaimana realitas akhlak anak bangsa saat ini? Kondisi akhlak anak bangsa sekarang ini memang tidak semuanya rusak, masih ada yang baik, namun tidak sedikit pula orang yang tidak memperdulikannya lagi. Masih terbayang dipelupuk mata kita, bagaimana tawuran antar warga kampung, antar pelajar Smp A dan Smp B, meningkat lagi antara SMA A dan SMA B, terus meningkat lagi antar fakultas F dan fakultas B. Masih terngiang di telinga kita, bagaimana seorang anak membunuh ibu kandungnya, ayah memperkosa anaknya dan membunuhnya. Amanah dan keadilan sudah tidakdijunjung lagi, terjadi korupsi, manipulasi, kezaliman, pemerasan dan lain-lain.
Melihat kondisi demikian sangat wajar para ulama selalu memperingatklan umatnya, malah sampai sampai bapak Predisden RI kala itu Dr. H. Susilo Bambang Yudoyono dalam beberapa kesempatan mengingatkan rakyatnya: Ketika menghadiri perayaan Isra Mi’raj, 9Juli 2010. Hari Anak Nasional 23 Juli 2010. Membuka Munas MUI. Memberikan samabutan pada acara Peringatan Nuzulul Quran 25 Juli 2010 mengatakan “… Kondisi akhlak anak bangsa sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Bahkan dengan tegas dinyatakan bahwa kondisi akhlak bangsa ini sudah mencapai tingkat tragedi yang mengerikan”. Selanjutnya beliau mengajak komponen anak bangsa “ Saatnya Indonesia kembali kepada peradaban Islam”
Dari prolog singkat di atas diharapkan menjadi renungan bagi mahasiswa untuk menjadikan diri sebagai insan cendikiawan yang memiliki akhlak mulia sehingga dapat ditiru dan diteladani oleh masyarakat sekitarnya.bukan malah menjadi cibiran dan beban masyarakat dan pemerintah.
Syair di atas bukan hanya sekedar pemanis kata dan tanpa dasar. Hal ini dapat ditelusuri dari historis umat terdahulu, misalnya hancurnya kaum Nabi Luth, runtuh dan hancurnya suku bangsa Quraisy. Kehancuran dan kebinasaan mereka itu kalau diamati jelas ada kaitannya dengan kemerosotan moral atau akhlak dari bangsa itu sendiri.
Maka dengan demikian semakin jelas begitu urgennya akhlak mulia bagi seseorang, baik ia sebagai individu, maupun kelompok (masyarakat). Lebih jauh hal ini dapat ditelusuri dari salah satu misi diutusnya Nabi Muhammad SAW, yakni untuk memperbaiki akhlak atau budi pekerti manusia “ Innamā bu’istu li utammima makārima al akhlāq” Artinya : “Sesungguhnya saya diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak atau budi pekerti manusia”.
Memahami makna hadits di atas, maka agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW merupakan agama penyempurna budi pekerti atau akhlak. Hal ini dapat dimaklumi karena ketika itu (masa jahiliah), akhlak manusia pada masa itu sudah sangat memprihatinkan, sampai-sampai orang-orang kafir kurais menganggap hina jika melahirkan anak perempuan dan karenanya mesti dibunuh dengan cara menguburnya hidup-hidup.
Lebih jauh Harun Nasution mengomentari hadits di atas, bahwa kata “innama” yang terkandung dalam hadits di atas mengandung maknai “hanya semata-mata”, karena itu tidak untuk hal lain. Terkandung dalam hadits itu bahwa Nabi Muhammad diutus hanya untuk urusan budi pekerti, moral atau akhlak manusia (Harun Nasutiuon, 1995:443).
Dari uraian singkat di atas, tampak semakin jelas, begitu urgennya akhlak bagi manusia dalam menjani kehidupan ini, jikalau ia menginginkan dan mendambakan kehidupan serta hubungan yang harmonis, rukun dan damai, baik dengan sang Pencipta (Allah SWT), dengan manusia dan lingkungannya. Kehidupan yang demikian pada akhirnya akan menuai kesuksesaan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Bagaimana realitas akhlak anak bangsa saat ini? Kondisi akhlak anak bangsa sekarang ini memang tidak semuanya rusak, masih ada yang baik, namun tidak sedikit pula orang yang tidak memperdulikannya lagi. Masih terbayang dipelupuk mata kita, bagaimana tawuran antar warga kampung, antar pelajar SMP A dan SMP B, meningkat lagi antara SMA A dan SMA B, terus meningkat lagi antar fakultas F dan fakultas B. Masih terngiang di telinga kita, bagaimana seorang anak membunuh ibu kandungnya, ayah memperkosa anaknya dan membunuhnya. Amanah dan keadilan sudah tidakdijunjung lagi, terjadi korupsi, manipulasi, kezaliman, pemerasan dan lain-lain.
Melihat kondisi demikian sangat wajar para ulama selalu memperingatklan umatnya, malah sampai sampai bapak Presiden RI kala itu, Dr. H. Susilo Bambang Yudoyono dalam beberapa kesempatan mengingatkan rakyatnya: Ketika menghadiri perayaan Isra Mi’raj, 9Juli 2010. Hari Anak Nasional 23 Juli 2010. Membuka Munas MUI. Memberikan samabutan pada acara Peringatan Nuzulul Quran 25 Juli 2010 mengatakan “…Kondisi akhlak anak bangsa sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Bahkan dengan tegas dinyatakan bahwa kondisi akhlak bangsa ini sudah mencapai tingkat tragedi yang mengerikan”. Selanjutnya beliau mengajak komponen anak bangsa “ Saatnya Indonesia kembali kepada peradaban Islam”
Dari prolog singkat di atas diharapkan menjadi renungan bagi kita semuao untuk menjadikan diri sebagai insan cendikiawan yang memiliki akhlak mulia sehingga dapat ditiru dan diteladani oleh masyarakat sekitarnya. bukan malah menjadi cibiran dan beban masyarakat dan pemerintah.